
Kendati daerah Batu telah meniti perjalanan sejarah yang amat panjang, sedari Masa Bercocok Tanam dan Masa Perundagian di Zaman Prasejarah, memasuki Masa Hindu-Buddha, berlanjut ke Masa Masa Perkembangan Islam, melintasi Masa Kolonial hingga sampai Masa Kemerdekaan RI sekarang. Namun, tidak semua lapisan masa itu meninggalkan jejak budaya yang sama banyaknya. Yang terbanyak adalah peninggalan budaya dari Masa Kolonial Kemerdekaan. Dan Sedangkan Masa dari Zaman Prasejarah dan Masa Hindu Buddha, kalaupun ada tidak akan lebih banyak bila dibandingkan dengan apa yang terdapat di Kabupaten dan Kota Malang tetangganya. Perlu untuk disadari bahwa sedikit apapun, sekecil acapun peninggalan budaya pada masa lampau di suatu daerah, itu tetaplah berarti. Oleh karena itu, apapun tinggalan budaya masa lampu musti dilingkin, dilestarikan dan dimanfaatkan dengan seksama. Sejauh ini, telah diketahui terdapat dua prasasti yang secara khusus berkenaan dengan kesejarahan Batu, yaitu Prasasti Sangguran ditemukan pada 928 Masehi dan Prasasti Jiyu pada 1486 Masehi.
Prasasti yang tertua adalah Prasasti Sangguran, sehingga dapat diposisikan sebagai "Petanda Mula Sejarah Daerah Batu”. Prasasti ini adalah sumber dari sejarah “internal” daerah Batu, dalam arti berasal dari daerah Batu sendiri serta memuat informasi kesejarahan Batu. Sayang sekali, prasasti ini telah mengalami relokasi, yakni dipindahkan ke Calcutta tepatnya di Teluk Benggala, dan kemudian direlokasi lebih jauh ke Schotlandia. Sedangkan Prasasti Jiyu, meski di dalamnya memuat informasi mengenai Desa Perdikan (Sima atau Swatantra) yang berada di daerah Batu dengan perkataan “deseng" Batu (desa in Batu). Namun,kebedaan asalnya tidak di daerah Batu, melainkan dari Dusun Jeruk Wangi di Desa Jiyu Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto
Data artefaktual maupun tekstual menunjukkan bahwa wilayah Batu telah menjadi daerah hunian atau tempat bagi berlangsungnya aktifitas sosial budaya sejak Masa Becocok Tanam pada Zaman Prasejarah. Bahkan pada Masa Hindu-Budhha, yakni pada masa kerajaan Kanjuruhan, Mataram, Singhasari dan Majapahit, Batu telah menyadi wilayah hunian. Beberapa desa di wilayah Batu, seperti Sangguran, Batwan, dan Deseng Batu telah menyandang status "Desa Perdikan (Sima)”. Tempat dan perangkat keagamaan yang berlatar agama Hindu juga didapati di berbagai tempat di wilayah Batu, tak terkecuali di desa-desa tetangga dari Bumiaji, seperti Tulungrejo, Gunungsari, Pandanrejo, Songgokerto, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, tidaklah tepat jika Mbah Batu yang hidup pada masa perkembangan Islam, tepatnya di era Kasultanan Mataram, dinyatakan sebagai “pembuka perdana (sing mbabat) daerah Batu”

Masa hidup Mbah Batu adalah pada sekitar abad XIX, atau paling tua abad XVIII. Demikian pula dengan Bambang Selo Utomo, tidak tepat jika dinyatakan bahwa masa hidupnya pada sekeitar abad XV, sebab konteks waktu peristiwa yang dikisahkan adalah masa Mataram. Mereka berdua dengan demikian hidup pada Periode Perkembangan Islam. Oleh karena itu, lebih tepat bila Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo dinyatakan sebagai tokoh yang berjasa mengawali siar Islam, khususnya di sub-area Batu Utara, baik di Desa Bumiaji maupun Desa Punten.
Desa Gunungsari sendiri menurut folklor yang ada, orang pertama yang datang ke Desa Gunungsari adalah orang yang berasal dari daerah Ponorogo bernama K.H Anwar Mukmin atau lebih akrab disebut dengan Buyut Sarpin/Raden Sarpin. Beliau datang dan membuka pemukiman di Desa Gunungsari kurang lebih pada tahun 1745 M.Raden Sarpin pertama kali datang ke daerah Brau yang sekarang menjadi Dusun Brau. Raden Sarpin menamakan Desa Gunungsari karena daerah ini dikelilingi oleh pegunungan yang sangat indah serta tanahnya yang sangat subur.
Mengapa menurut folklor? Hal ini dikarenakan minimnya literasi dan bukti fisik mengenai sejarah asal-usul dari Desa Gunungsari itu sendiri.